Sunday, July 8, 2007

Sweethearts Paradise

Assalamu'alaikum...........

Monday, January 29, 2007

Meneladani Yang Maha Besar

Semoga Allah Yang Mahabesar mengaruniakan kemampuan pada kita untuk mengenal diri, sehingga kita tidak tertipu topeng duniawi. Saudaraku, mengenal diri adalah syarat untuk menjadi lebih baik. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki orang lain, kalau kita tidak bisa memperbaiki diri. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki diri, kalau kita tidak berani jujur terhadap diri sendiri.

Allah adalah Al Kabir; Dzat Yang Mahabesar. Jagat raya yang demikian besar sepenuhnya ada dalam genggaman Allah. Demikian pula galaksi, matahari, planet, bumi, dan manusia yang menghuninya ada dalam genggaman Allah SWT. Semua itu teramat kecil dan tak berharga dalam pandangan Allah. Kalau dunia ini seharga sayap nyamuk saja, niscaya Allah tidak akan memberikan kekayaan kepada orang-orang kafir. Itulah sedikit makna Allahu Akbar; Allah Yang Mahabesar.

Karena itu, tatkala kita mendengar kumandang adzan, harusnya semua urusan duniawi menjadi kecil. Bisnis, rapat, pekerjaan, atau uang semuanya menjadi kecil. Allahlah Yang Mahabesar, hingga kita bersegera menuju panggilan tersebut. Begitu pun saat berperang. Seruan Allahu Akbar seharusnya menjadikan musuh-musuh kita menjadi kecil. Dengan memaknai Allahu Akbar tidak akan terlintas dalam diri kita untuk menjadi pengecut dan mundur dari pertempuran. Musuh adalah bonus yang diberikan Allah. Musuh adalah ladang amal. Orang yang mengenal Allah akan menjadikan kalimat laa khaufun 'alaihim walaahum yahzanun. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, sebagai prinsip hidupnya.

Menganggap dunia kecil, bukan berarti kita harus meremehkannya. Tujuannya, kita harus mengantisipasi agar tidak menjadi penjilat. Boleh kita bergaul rapat dengan manusia, tapi hati kita jangan pernah berharap dari mereka. Harapan kita hanya kepada Allah semata.

Bila kita mengenal Allah Dzat Yang Mahabesar, maka tidak ada lagi tempat untuk merasa besar. Konsekuensinya bagai pipa U. Semakin mengangkat diri, maka akan semakin jatuh pula kita dibuatnya. Sebaliknya, semakin kita menekan diri ke bawah (rendah hati), maka akan semakin naik pula harga diri kita. Allah SWT sudah mendesain hati kita untuk tidak menyukai kesombongan dan menyukai orang rendah hati. Pertanyaannya, kita termasuk orang yang mana?

Saudaraku, sesungguhnya ingin dihormati adalah salah satu sifat manusia. Karena itu, ketika ia datang menghampiri, segera kita membelokkan. Cukuplah pujian dan penilaian Allah saja. Semakin kita tidak condong kepada dunia, maka kita akan semakin bahagia dalam hidup. Saya teringat sebuah pesan dari seorang alim. "Kamu akan nikmat dalam hidup dan dicukupi kebutuhannya. Satu saja syaratnya, jangan pernah berharap kepada makhluk." Karena itu, sesulit apapun situasi yang kita hadapi, kita harus mati-matian menjaga kehormatan diri. Kalau kita sudah menengadahkan tangan kepada manusia, pasti jatuh harga diri kita. Boleh saja kita terbatas ekonominya, tapi jangan sekali-kali kita membatasi harga diri kita. Inilah kekuatan iman. Keyakinan akan pertolongan Dzat Yang Mahabesar. Wallaahu a'lam.

( KH Abdullah Gymnastiar )

Thursday, January 25, 2007

Sedih euy

Tit.tit..bunyi sms masuk. Alhamdulillah ternyata adekku ^_^ Mmmm.........bawa kabar apa ya???Biasanya ni adek suka iseng juga. Waktu dibaca duh pengen nangis (hiks....hiks....hiks.....) ternyata bukan berita bagus. Mama tercinta sakit. Rabbi..........beri kekuatan pada mama agar selalu sabar dan berikan kesehatan kepada beliau. Sayang mama........kangen mama.............Rabbi..............obati kerinduan hamba ini.........

3 Persiapan Fundamental dalam Pernikahan

3 Persiapan Fundamental dalam Pernikahan

oleh. Ust. Virda Dimas Eka Putera (CEO Rumah Zakat Indonesia)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt. Dzat yang Maha Agung. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan nabi kita tercinta nabi Muhammad saw, shahabat, tabi’in dan pengikutnya sampai hari akhir.

Allah berfirman dalam salah satu ayat-Nya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S Ar Ruum : 21)

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Al-Hujurat : 13)

Bersabda Rasulullah saw;

”Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.” (Al-Hadits)

Menikah adalah sebuah ibadah dalam pandangan islam, oleh karena itu nikah merupakan hal sakral yang di dalam telah di tentukan ketentuannya oleh agama islam. Menikah adalah upaya untuk menciptakan generasi masa depan yang lebih baik dan lebih unggul sehingga menciptakan tantangan masyarakat yang baik yang di dalam masyarakat tersebut dipenuhi oleh kebaikan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan.

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan manakala kita hendak melangsungkan pernikahan, diantaranya:

1. Persiapan ilmu

Persiapan ilmu ini merupakan persiapan yang utama, karena dengan ilmu sebuah amalan itu akan mendapatkan pahala, ketika seseorang melakukan sebuah amalan tanpa disertai dengan ilmu maka amal tersebut akan menjadi sia-sia di mata Allah swt, dan dengan ilmu kemudian seseorang itu akan terakan derajatnya di sisi Allah.

Allah swt berfirman:

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Mujadilah : 11)

Rasulullah saw, bersabda:

”Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar dari kami, maka ia tertolak.” (Hadits)

2. Persiapan mental

Persipaan mental juga merupakan persiapan fundamental ketika kita akan memasuki gerbang pernikahan. Persipan mental disini adalah upaya kedua belah pihak untuk bersiap diri menghadapi apapun kondisi pasangan kita yang di anugerahkan Allah SWT. Manakala dengan ikatan pernikahan diharapkan apa saja yang menjadi kekurangan pasangan kita, kita sadari sebagai fitrah, bukan menjadi sumber konflik dalam bahtera keluarga tapi justru carilah sisi positif atau kelebihan pasangan kita sehingga dari situlah akan mencul sebuah keharmonisan dalam keluarga. Bukankah tanda cinta adalah membuat pasangan kita jauh lebih baik dalam segala hal?

3. Persiapan finansial

Persiapan ketiga yang tak kalah pentingnya adalah kesiapan finansial. Kesiapan finansial tidak hanya di lihat dari sisi kemapanan secara ekonomi tetapi lebih kepada kesiapan mencari sumber-sumber pendapatan dalam keluarga. Bukankah rezki Allah itu luas, carilah sumber rezki itu sebagai bentuk panggilan tanggungjawab dan amanah dalam keuarga karena itu akan menjadi ibadah.# Wallua’lam bishowab.